Membaca buku adalah cara yang umum dilakukan untuk melepas penat, dan para peneliti di Universitas Cambridge menyatakan bahwa membaca demi kesenangan dapat memberikan manfaat yang berdampak sepanjang hayat.
Berbagai studi mengaitkan kegiatan ini dengan kesehatan mental yang lebih baik, kemampuan berpikir yang lebih tajam, serta risiko demensia yang lebih rendah pada lansia. Para peneliti berpendapat bahwa apa yang dibaca dan bagaimana cara membacanya tidaklah sepenting menemukan bacaan yang disukai—baik itu karya klasik Jane Austen maupun novel grafis Heartstopper.
Dalam sebuah tinjauan yang diterbitkan di jurnal Psychological Medicine, Profesor Barbara Sahakian dan Dr. Christelle Langley dari Departemen Psikiatri Cambridge mengkaji bukti-bukti tersebut bersama Vicki Perrin, CEO The Queen’s Reading Room, sebuah organisasi amal yang didirikan oleh Yang Mulia Ratu. Kolaborasi mereka mendukung upaya untuk mendorong budaya membaca di segala usia selama Tahun Membaca Nasional (National Year of Reading).
Sahakian dan Langley mulai tertarik pada beragam potensi manfaat membaca saat menyusun buku mereka yang akan terbit pada tahun 2025, Brain Boost: Healthy Habits for a Happier Life. Mereka juga mendapati bahwa penelitian mengenai membaca demi kesenangan ternyata masih sangat terbatas. Sebagian besar studi hanya menunjukkan adanya kaitan atau asosiasi, yang berarti penelitian tersebut tidak dapat memastikan secara pasti bahwa kegiatan membaca itu sendirilah yang menyebabkan perbedaan-perbedaan yang teramati.
Fiksi mungkin bisa menghilangkan stres dengan cepat
Di kalangan orang dewasa, survei menghubungkan membaca dengan berkurangnya stres, relaksasi yang lebih baik, empati yang lebih besar, dan pemahaman yang lebih baik terhadap sudut pandang orang lain.
Baca Juga:
- Minum Kopi di Pagi Hari: Umur Panjang dan Kesehatan Jantung yang Lebih Baik
- Waspada, Krisis Oksigen Diam-diam Menyebar di Perairan Bumi, Seru Ilmuwan
Berdasarkan temuan survei, 38% orang dewasa, hampir dua dari lima orang, memilih buku sebagai cara favorit mereka untuk melepas penat, sehingga membaca merupakan metode yang paling populer untuk menghilangkan stres. Survei lain menemukan bahwa 35% memilih buku karena alasan kenyamanan, dibandingkan dengan 31% yang memilih wine dan 10% lebih memilih mandi air panas.
Sebuah studi ilmu saraf yang dilakukan oleh The Queen’s Reading Room pada tahun 2024 menunjukkan bahwa membaca dalam waktu singkat pun dapat membantu. Ditemukan bahwa fiksi berdurasi lima menit dapat mengurangi stres hingga 20%, meningkatkan konsentrasi dan keterampilan memecahkan masalah, serta membantu pembaca mengurangi rasa kesepian.
Membaca dikaitkan dengan risiko demensia yang lebih rendah
Bagi lansia, penelitian juga mengaitkan aktivitas waktu luang yang menstimulasi mental—terutama membaca—dengan laju penurunan kemampuan berpikir dan daya ingat yang lebih lambat serta risiko demensia yang lebih rendah.
Sebuah studi memantau hampir 5.500 orang dewasa berusia 55 tahun ke atas selama lima tahun. Mereka yang sering melakukan aktivitas seperti membaca memiliki kemungkinan jauh lebih kecil untuk mengalami gangguan kognitif, yaitu kesulitan dalam kemampuan seperti daya ingat dan berpikir. Studi terpisah mengaitkan kebiasaan membaca surat kabar, majalah, dan buku dengan risiko penyakit Alzheimer yang 33% lebih rendah.
Membaca bersama orang lain dapat memberikan manfaat tambahan melalui interaksi sosial, yang penting bagi kesejahteraan mental maupun fisik, khususnya di masa tua.
Sahakian mengatakan: “Kelompok membaca bersama dan klub buku tampaknya memberikan manfaat tambahan melalui interaksi sosial. Kegiatan ini dapat membantu orang merasa tidak terlalu terisolasi dan lebih terhubung dengan orang lain, hal yang terbukti dapat mengurangi risiko demensia.
“Meskipun klub-klub ini bisa menyenangkan dan bermanfaat bagi segala usia, kegiatan ini sangat cocok bagi para lansia yang mungkin memiliki keterbatasan mobilitas—mereka mungkin tidak bisa keluar rumah untuk bergabung dengan kelompok olahraga atau bersepeda, namun kelompok membaca adalah kegiatan yang dapat dinikmati oleh kebanyakan orang.”
Manfaat membaca disertai dengan perubahan pada otak
Pencitraan otak memberikan petunjuk mengenai hubungan antara membaca dan kesehatan kognitif. Berbagai penelitian mengaitkan kegiatan membaca dengan volume yang lebih besar serta luas permukaan korteks yang lebih luas pada wilayah-wilayah otak yang berperan dalam bahasa, pembelajaran, pengelolaan emosi, dan kendali eksekutif—yaitu kemampuan yang membantu seseorang untuk fokus, membuat rencana, dan mengelola tugas. Para peneliti juga menemukan ketebalan yang lebih besar pada area korteks (lapisan luar otak) yang terkait dengan bahasa, serta koneksi yang lebih kuat melalui materi putih (white matter), yakni serat saraf yang menghantarkan sinyal antarwilayah otak dan mendukung pemrosesan bahasa.
Anak-anak kini lebih jarang membaca, padahal ada berbagai manfaat potensial yang bisa diperoleh.
Bukti lebih luas mengenai masa kanak-kanak diperoleh dari sebuah studi yang dilakukan oleh Sahakian, Langley, dan rekan-rekan mereka yang melibatkan lebih dari 10.000 anak muda. Anak-anak yang mulai membaca demi kesenangan sejak usia dini memiliki kemampuan perhatian, daya ingat, dan fungsi eksekutif yang lebih baik, serta pencapaian akademik yang lebih tinggi. Mereka juga memiliki masalah kesehatan mental yang lebih sedikit dan gaya hidup yang lebih sehat, termasuk durasi tidur yang lebih cukup serta waktu penggunaan layar (screen time) yang lebih sedikit.
Kaitan akademik ini tidak terbatas pada kemampuan literasi saja. Membaca juga berhubungan dengan prestasi dalam mata pelajaran matematika, yang melibatkan beberapa kemampuan mental serupa, seperti keterampilan berbahasa, daya ingat, dan fungsi eksekutif.




1 Komentar
kbetulan sekali saya hobi membaca buku Sob...
BalasHapus