Penelitian baru dari Universitas Lund di Swedia ini meneliti peran tepi jalan bagi lebah. Hasilnya menunjukkan bahwa tepi jalan dapat menjadi lingkungan yang berbahaya bagi serangga yang mencari makanan.
Tim tersebut menggunakan anjing terlatih khusus yang telah belajar mengendus sarang lebah untuk membantu mereka. Survei tersebut mencakup 60 tepi jalan di Swedia selatan dan membandingkan jumlah lebah yang mati dan hidup di sepanjang jalan dengan intensitas lalu lintas yang berbeda.
![]() |
| Studi penelitian ini menyelidiki nilai tepian jalan yang kaya akan bunga bagi lebah. (Kredit: Kennet Ruona) |
"Di sepanjang jalan yang lalu lintasnya paling sedikit, kami hampir tidak menemukan lebah mati sama sekali, tetapi pada sekitar 4.000 kendaraan per hari, kami menemukan lebih banyak lebah mati daripada lebah hidup," kata Sofia Blomqvist, seorang mahasiswa doktoral di Universitas Lund yang memimpin penelitian yang kini diterbitkan dalam jurnal Biological Conservation.
Baca Juga:
- 10 Fakta Menarik Kuda Laut, Makhluk Karismatik yang Setia Pada Pasangan
- Makhluk Mirip Laba-laba Ini Membantu Ilmuwan Menguraikan Asal Usul Peran Ayah
Sarang lebah yang ditemukan hampir seluruhnya terletak di tepi jalan pribadi tanpa lalu lintas atau di sepanjang jalan umum dengan hingga beberapa ratus kendaraan per hari. Para peneliti menyimpulkan bahwa di sepanjang jenis jalan inilah langkah-langkah untuk memberi manfaat bagi lebah memiliki peluang keberhasilan terbesar. Di sana, bunga-bunga banyak dikunjungi oleh lebah, dan angka kematiannya rendah.
Pada saat yang sama, para peneliti menekankan bahwa investasi pada tepi jalan yang kaya akan keanekaragaman spesies tidak boleh mengorbankan upaya konservasi di habitat yang lebih penting.
![]() |
| Anjing pelacak lebah yang terlatih khusus bernama Humla digunakan dalam penelitian ini. (Kredit: Catrin Jakobsson) |
"Meskipun langkah-langkah untuk mendukung lebah di sepanjang jalan dengan lalu lintas rendah mungkin bermanfaat, jenis lingkungan ini tidak boleh dilihat sebagai pengganti habitat konservasi tradisional seperti padang rumput semi-alami dan padang rumput jerami," kata Blomqvist.
Studi ini bertujuan untuk memahami bagaimana alam dan lalu lintas berinteraksi. Johan Rydlöv, koordinator nasional untuk keanekaragaman hayati di Administrasi Transportasi Swedia, mencatat bahwa jaringan jalan merupakan proporsi signifikan dari habitat potensial bagi organisme liar di sebagian besar wilayah Eropa.
"Untuk dapat menggunakan lingkungan ini dengan cara yang bermanfaat bagi keanekaragaman hayati, kita perlu memahami baik peluang maupun keterbatasan yang ditimbulkannya," kata Rydlöv. "Dengan cara ini, hasilnya bermanfaat dalam upaya untuk menciptakan infrastruktur yang lebih berkelanjutan," pungkasnya.
Apakah di Indonesia juga demikian? Mungkin perlu kita pelajari.





0 Komentar