Indonesains.id - Penelitian baru telah membuka jalan bagi strategi baru untuk mengatasi komplikasi jangka panjang COVID-19.

Para peneliti dari University of Malta telah mengidentifikasi kemungkinan penyebab gejala berkepanjangan dan sering melemahkan yang dihadapi oleh individu dengan COVID-19 yang berkepanjangan.

Studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah BBA Molecular Basis of Disease ini berimplikasi pada pengembangan obat untuk mengobati individu yang belum sepenuhnya pulih dari infeksi COVID-19.

Sekitar satu dari tiga orang yang sembuh dari COVID-19 terus mengalami gejala yang mengganggu kehidupan, seperti kelelahan terus-menerus, sesak napas, 'kabut otak' (istilah yang digunakan untuk menggambarkan kesulitan konsentrasi), dan kelemahan otot. Asal usul long COVID, meskipun dampak globalnya meningkat pada kehidupan sehari-hari, tetap menjadi misteri.

Riset Baru: Menyingkap Misteri di Balik Long COVID pada Kelemahan Otot
Para peneliti telah menemukan penyebab potensial untuk gejala COVID-19 yang bertahan lama. Studi mereka mengungkapkan bahwa reseptor ACE2, yang menjadi target virus SARS-CoV-2, memainkan peran penting. Mengurangi kadar ACE2 pada lalat buah mengakibatkan masalah kelelahan dan mobilitas. (Kredit: University of Malta)


SARS-CoV-2, virus corona penyebab COVID-19, menempel pada reseptor ACE2 (angiotensin-converting enzyme 2), yang bertindak sebagai pintu masuk melalui mana virus menginfeksi sel. Dalam studi perintis, para peneliti di University of Malta mengeksploitasi lalat buah untuk mengekang tingkat reseptor ACE2. Dengan tidak adanya virus, ini cukup untuk menyebabkan kelelahan dan mobilitas yang berkurang.

Baca Juga:

“Penelitian kami dengan jelas menunjukkan bahwa penipisan ACE2 merupakan pusat komplikasi neuromuskuler yang dialami oleh sebagian besar pasien COVID-19,” kata Profesor Ruben Cauchi, yang mengepalai Laboratorium Penyakit Neuron Motorik di Universitas Malta.

Temuan menarik ini berasal dari studi besar yang dimulai selama panasnya pandemi dan untuk sementara mengambil alih fokus utama laboratorium dalam menanggapi keadaan darurat global. Prof. Cauchi dan timnya telah lama menggunakan lalat buah untuk meneliti ALS karena kesamaan genetik dan biologisnya yang luar biasa dengan manusia.

Ketika menganalisis cacat molekuler pada organisme dengan tingkat ACE2 yang diturunkan, para ilmuwan Malta menemukan gangguan dalam komunikasi antara saraf dan otot. Beberapa molekul kunci yang diperlukan saraf untuk mengirim pesan ke otot ditemukan terganggu.

Berbagai jalur diperkirakan bersatu untuk menurunkan level ACE2 atau meredam fungsinya pada manusia setelah infeksi virus corona.

“Selain dibajak oleh virus, reseptor ACE2 pada permukaan sel juga dapat ditargetkan oleh autoantibodi, dengan sistem kekebalan menyerang tubuh seperti yang terjadi pada Multiple Sclerosis,” tambah Dr. Paul Herrera, yang melakukan eksperimen rumit tersebut yang sangat penting untuk penelitian. Ada juga laporan persistensi virus lama setelah infeksi awal.

Penemuan oleh University of Malta menyoroti dampak abadi infeksi COVID-19 dan membuka jalan bagi pendekatan terapeutik untuk mengurangi komplikasi penonaktifan kronis.

Hasil studi ini telah dipublikasikan di jurnal Biochimica et Biophysica Acta (BBA) – Molecular Basis of Disease pada 04 Agustus 2023 dengan judul “Functional characterisation of the ACE2 orthologues in Drosophila provides insights into the neuromuscular complications of COVID-19.”

*****